Fitra Hariadi
Fellow Strategia Institute
Perekonomian global dan nasional saat ini tengah menghadapi situasi kritis yang dapat digambarkan sebagai “Double Storm” atau badai ganda. Di satu sisi, ketegangan geopolitik memuncak akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran, sementara di sisi lain, fundamental ekonomi domestik juga menghadapi sejumlah tekanan. Kombinasi kedua faktor ini menuntut kewaspadaan tinggi dan langkah kebijakan yang presisi.
Ancaman Blokade Selat Hormuz dan Ledakan Harga Minyak
Pemicu utama gejolak pasar saat ini berasal dari pernyataan tegas Presiden AS yang berencana melakukan blokade laut total di Selat Hormuz. Ancaman penutupan jalur strategis ini mengirimkan guncangan dahsyat, mendorong harga minyak dunia melonjak tajam. Berdasarkan data terkini, harga minyak mentah jenis Brent melonjak 6,95% ke level US$ 101,82 per barel, sementara jenis West Texas Intermediate (WTI) menguat bahkan lebih signifikan sebesar 8,17% ke level US$ 104,46 per barel.
Kondisi ini menciptakan risiko imported inflation yang serius bagi negara importir seperti Indonesia. Jika blokade benar-benar terealisasi, tidak hanya pasokan energi yang terancam, tetapi biaya logistik dan asuransi pengiriman dipastikan akan membubung tinggi, yang pada akhirnya berpotensi menekan neraca perdagangan dan mendorong kenaikan harga barang kebutuhan pokok secara luas.
Rupiah dan Fiskal di Bawah Tekanan
Dampak dari ketegangan global langsung terasa pada nilai tukar rupiah yang dibuka melemah di level Rp 17.107 per dolar AS. Tekanan ini diperparah oleh penguatan indeks dolar AS sekitar 0,35% dan pelemahan mayoritas mata uang regional Asia.
Di dalam negeri, tantangan semakin kompleks. Terdapat kekhawatiran nyata terkait defisit fiskal yang berpotensi menembus ambang batas 3% terhadap PDB, ditambah dengan indikator cadangan devisa yang menurun dan kinerja perdagangan yang belum solid. Ini menandakan bahwa manajemen belanja negara harus dilakukan dengan sangat efisien dan strategis. Meskipun realisasi Program Belanja Nasional pada Kuartal I-2026 mencatatkan capaian positif sebesar Rp 184,02 triliun atau 6,75% di atas target Rp 172,38 triliun, intensifikasi dan efektivitasnya perlu terus ditingkatkan.
Dinamika Pasar Aset
Ketidakpastian juga tercermin dari pergerakan aset investasi. Harga emas dunia mengalami koreksi drastis sekitar 24%, jatuh dari puncaknya di US$ 5.415 ke level terendah sekitar US$ 4.100 per troy ons dalam kurun waktu 20 hari terakhir. Sementara itu, pasar aset digital juga ikut terimbas; kapitalisasi pasar kripto global anjlok 3% menjadi US$ 2,41 triliun, dengan harga Bitcoin yang terkoreksi 3,34% ke level US$ 70.636.
Di tengah volatilitas tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berupaya bertahan dengan menguat 0,27% atau setara 19,81 poin ke level 7.478,3, meskipun pergerakan masih berfluktuatif dalam rentang yang cukup lebar.
Konsumsi sebagai Tumpuan Utama
Di tengah berbagai tekanan tersebut, sektor konsumsi rumah tangga terbukti menjadi penyangga (buffer) ekonomi yang paling solid. Keberhasilan Program Belanja Nasional menjadi bukti empiris bahwa kebijakan yang berfokus pada stimulasi permintaan masyarakat sangat efektif menjaga roda ekonomi tetap berputar. Hal ini menegaskan bahwa selama daya beli masyarakat terjaga, pertumbuhan ekonomi nasional masih memiliki harapan.
Rekomendasi Kebijakan
Merespons dinamika tersebut, diperlukan langkah strategis yang komprehensif:
Pertama, koordinasi kebijakan moneter dan fiskal harus semakin solid. Bank Indonesia perlu terus menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan ekspektasi inflasi, sementara pemerintah harus memastikan belanja negara tetap produktif namun defisit tetap terjaga dalam koridor yang sehat, serta memitigasi risiko pasokan energi akibat situasi di Selat Hormuz.
Kedua, perlindungan terhadap masyarakat harus diperkuat. Pemerintah perlu merumuskan dan mempertegas skema jaring pengaman sosial (social safety net) yang tepat sasaran untuk melindungi kelompok masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah agar tidak semakin terbebani.
Ketiga, stimulus terhadap konsumsi harus dilanjutkan dan ditingkatkan. Mengingat sektor ini menjadi tumpuan utama saat ini, kebijakan yang mendorong belanja dan aktivitas ekonomi riil perlu dipertahankan agar momentum pertumbuhan tidak melambat lebih jauh.




