Dr. KH. Jazuli Juwaini, MA – Ketua Umum Pengurus Besar Mathla’ul Anwar
Setiap tahun, jutaan manusia bergerak menuju satu titik: padang Arafah dan tanah suci Makkah. Mereka datang dari beragam bangsa, bahasa, warna kulit, kelas sosial, dan tingkat pendidikan. Dalam pakaian ihram yang sama, mereka menanggalkan identitas duniawi dan memasuki ruang spiritual yang paling purba sekaligus paling futuristik dalam sejarah manusia. Di saat yang sama, gema qurban kembali diperdengarkan: manusia diajak menyembelih ego, kerakusan, dan rasa memiliki yang berlebihan demi menghadirkan kepedulian sosial dan penghambaan yang murni kepada Tuhan.
Haji dan qurban bukan sekadar ritual tahunan umat Islam. Ia adalah peristiwa peradaban. Ia merupakan puncak spiritualitas manusia yang mengandung pesan mendalam bagi masa depan dunia yang hari ini semakin kehilangan arah, rapuh, dan terpecah oleh krisis makna.
Kita hidup di era yang oleh para ilmuwan sosial disebut sebagai era VUCA: volatility, uncertainty, complexity, ambiguity. Dunia bergerak sangat cepat, penuh gejolak, tidak pasti, rumit, dan serba kabur. Perubahan teknologi berlangsung eksponensial, sementara kemampuan moral manusia sering tertinggal jauh di belakangnya. Artificial intelligence berkembang, tetapi empati manusia justru menyusut. Konektivitas digital meningkat, tetapi kesepian sosial juga semakin dalam.
Bahkan, sejumlah pemikir kontemporer menyebut zaman ini telah melampaui VUCA menuju era BANI: brittle, anxious, nonlinear, incomprehensible. Dunia menjadi rapuh, penuh kecemasan, bergerak tidak linear, dan sulit dipahami. Manusia modern hidup dalam banjir informasi tetapi kekeringan hikmah. Kita memiliki kemampuan mengendalikan teknologi, tetapi gagal mengendalikan diri sendiri.
Dalam konteks itulah, haji dan qurban menemukan relevansi yang sangat besar. Ritual ini sesungguhnya menghadirkan “antitesis spiritual” terhadap krisis manusia modern.
Haji dan Qurban sebagai Jalan Pemulihan Spiritualitas Manusia di Era VUCA dan BANI
Haji mengajarkan pelepasan total terhadap ego dan simbol-simbol duniawi. Ketika seseorang mengenakan ihram, ia memasuki keadaan kesetaraan mutlak. Tidak ada lagi status sosial, jabatan, kekayaan, atau identitas politik. Semua kembali menjadi manusia yang telanjang secara simbolik di hadapan Tuhan. Inilah momentum paling mendalam dari kesadaran kemanusiaan: bahwa manusia pada dasarnya sama, rapuh, fana, dan saling membutuhkan.
Ulama kontemporer Yusuf al-Qaradawi menjelaskan bahwa ibadah haji bukan hanya perjalanan fisik menuju Ka’bah, melainkan perjalanan ruhani untuk membangun kembali orientasi hidup manusia. Menurutnya, haji melatih manusia keluar dari kungkungan materialisme menuju kesadaran tauhid yang membebaskan. Dalam pandangan Al-Qaradawi, manusia modern sering terjebak pada “perbudakan baru”: perbudakan konsumsi, kekuasaan, dan hawa nafsu. Karena itu, haji hadir untuk memurnikan kembali jiwa manusia agar hidup tidak dikendalikan oleh ambisi duniawi semata (Al-Qaradawi, 1996).
Pandangan Al-Qaradawi menjadi sangat relevan hari ini ketika manusia modern mengalami apa yang oleh filsuf Jerman Erich Fromm disebut sebagai having mode of existence, yaitu kehidupan yang berpusat pada kepemilikan, bukan kebermaknaan. Manusia dinilai dari apa yang dimiliki, bukan siapa dirinya. Akibatnya, lahirlah peradaban yang canggih secara teknologi tetapi miskin secara spiritual (Fromm, 1976).
Dalam situasi seperti itu, haji menghadirkan koreksi besar terhadap orientasi hidup manusia. Ia mengingatkan bahwa inti kehidupan bukanlah akumulasi, melainkan penghambaan; bukan dominasi, melainkan kesadaran; bukan keserakahan, melainkan penyerahan diri.
Sementara itu, qurban membawa pesan spiritual dan sosial yang sama kuatnya. Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail bukan sekadar cerita kepatuhan individual kepada Tuhan. Ia adalah narasi agung tentang keberanian manusia menundukkan ego terdalamnya.
Yang disembelih sesungguhnya bukan hewan semata. Yang disembelih adalah kerakusan, narsisme, cinta dunia yang berlebihan, dan kecenderungan manusia menjadikan dirinya pusat segalanya. Qurban adalah pendidikan spiritual untuk melepaskan keterikatan yang membelenggu nurani manusia.
Cendekiawan Muslim Indonesia, Quraish Shihab, menegaskan bahwa inti qurban bukan pada darah atau dagingnya, melainkan ketakwaan dan kesediaan berbagi. Al-Qur’an sendiri menyatakan bahwa “daging dan darah itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaanmulah yang sampai kepada-Nya.” Di tengah kapitalisme global yang mendorong kompetisi tanpa batas, qurban menghidupkan kembali solidaritas sosial dan distribusi kasih sayang (Shihab, 2007).
Pesan Peradaban dari Tanah Suci: Meneguhkan Nilai Kemanusiaan di Tengah Disrupsi Teknologi
Di sinilah haji dan qurban menjadi sangat relevan dengan tantangan masa depan peradaban manusia.
Teknologi akan terus berkembang. Robot akan semakin cerdas. Kecerdasan buatan akan mengambil banyak fungsi manusia. Tetapi ada satu hal yang tidak bisa digantikan teknologi: kesadaran spiritual dan kemanusiaan. Dunia masa depan tidak hanya membutuhkan manusia pintar, tetapi manusia yang memiliki makna hidup, empati, pengendalian diri, dan orientasi moral.
Sejarawan besar Arnold Toynbee pernah mengatakan bahwa krisis terbesar peradaban bukanlah kehancuran material, melainkan keruntuhan spiritual. Banyak peradaban runtuh bukan karena kekurangan teknologi, tetapi karena kehilangan nilai dan tujuan hidup. Ketika manusia kehilangan orientasi moral, maka kemajuan justru dapat berubah menjadi ancaman (Toynbee, 1948).
Pandangan serupa juga dikemukakan oleh Yuval Noah Harari. Ia mengingatkan bahwa manusia abad ke-21 menghadapi tantangan besar berupa irrelevance, yaitu hilangnya makna dan peran manusia di tengah dominasi algoritma dan otomatisasi. Dalam situasi ini, agama dan spiritualitas tidak kehilangan relevansi; justru menjadi semakin penting sebagai fondasi etika dan arah peradaban (Harari, 2018).
Haji dan qurban mengajarkan bahwa manusia bukan mesin produksi. Manusia adalah makhluk spiritual yang membutuhkan makna, relasi, dan transcendence. Dalam wukuf di Arafah, manusia belajar diam dan merenung di tengah dunia yang terlalu bising. Dalam qurban, manusia belajar memberi di tengah budaya yang terus mendorong untuk mengambil. Dalam thawaf, manusia belajar bahwa hidup harus memiliki pusat nilai yang kokoh di tengah dunia yang serba cair.
Bahkan secara sosial-politik, haji menyimpan pesan besar tentang persatuan umat manusia. Di sana, manusia dipertemukan tanpa sekat ras dan kebangsaan. Ini menjadi sangat penting di tengah meningkatnya polarisasi global, konflik identitas, ekstremisme, dan krisis kemanusiaan. Haji mengingatkan bahwa umat manusia berasal dari sumber yang sama dan akan kembali kepada Tuhan yang sama.
Karena itu, haji dan qurban tidak boleh dipahami hanya sebagai ritual individual. Ia adalah pendidikan peradaban. Ia membentuk manusia yang rendah hati di tengah budaya narsistik, membangun solidaritas di tengah individualisme, serta menanamkan kesadaran transendental di tengah materialisme modern.
Pada akhirnya, puncak haji dan qurban adalah puncak kesadaran manusia tentang dirinya sendiri: bahwa manusia bukan pusat semesta, melainkan hamba yang bertugas merawat kehidupan. Ketika dunia semakin rapuh dan kehilangan arah, pesan spiritual dari ritual ini justru menjadi semakin mendesak untuk dihidupkan kembali.
Mungkin inilah paradoks terbesar zaman modern: semakin maju teknologi manusia, semakin manusia membutuhkan jalan pulang menuju makna. Dan haji serta qurban telah lama menyediakan jalan pulang itu — sejak zaman para nabi hingga masa depan peradaban manusia.




